Rabu, 05 September 2012

Kang Mas


Pagi itu aku beranjak dari tempat tidur. Segera aku berkemas-kemas untuk pergi ke sungai Dam di ujung desa tempat aku tinggal. Tikar pandan dan kain batik bermotif Rejeng ku bawa dengan kutumpuk pada satu ember hitam untuk ku bawa ke sungai. Rasanya begitu berat kaki ini untuk ku langkahkan.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan langkah demi langkah kaki ku akan segera sampai ke sungai Dam. Perlahan obrolan para ibu-ibu desa yang berada di sungai itu mulai terdengar. Hingga langkah berikutnya mata ku mulai melihat aliran air sungai Dam. Dan kini telah sampailah aku pada bibir sungai Dam. Satu persatu kain dan tikar ku keluarkan dari ember hitam yang ku bawa dari rumah tadi itu. Ku basahi kain dan tikar pandan itu dengan air sungai. Tikar yang seharusnya berbau pandan ini sudah tidak berbau wangi pandan lagi, melainkan bau amis, anyir, bau darah yang begitu menyengat. Dan gumpalan-gumpalan darah yang menempel pada kain dan tikar perlahan mencair dan mengikuti kemana air sungai dan darah akan mengalir.

“Mbak, mbok ya jangan melamun gitu! Mau saya bantu biar ndak kelelahan?”

“Oh ndak usah bu Sri, saya masih sanggup sendiri kog. Terimakasih ya sudah mau menawarkan bantuan.”

Suara Bu Sri begitu jelas terdengar di telingaku.

Mataku mulai melirikke arah kiri atas. Sedikit terlihat batu nisan yang masih baru. Mataku mulai berkaca-kacahingga aku tak menyadari bahwa kain yang sedang aku cuci itu hampir terbawa arus tenang sungai.
Aku masih tak percaya dengan itu semua. Seakan akan apa yang tengah aku alami ini hanyalah mimpi semata.

“Kangmas, apa kamu tidak mau untuk membuka mata lagi untukku? Darahmu yang telah ,membeku dan mengalir di sungai ini semakin membuatku merasa ndak ikhlas.”

“Mbaak,sudahlah jangan kau terus ingat-ingat dan jangan kau terlalu larut dalam kesedihan ini. Ikhlaskan saja dia mbak”

“Saya itu selalu berusaha seperti itu bu,tapi bagaimana lagi. Jujur saya belum bisa mengikhlaskan kangmas untuk pergi begitu saja”

“ya sudah lah mbak, lebih baik kamu lanjutkan dulu nyucimu itu.setelah itu kamu pulang dan beristirahatlah ya. Ingat jangan terlalu capek.”

“iya,terimakasih ya buu.”

Aku tak ingin terlalu lama di sungai ini, karena semakin siang sungai ini semakin sepi.

“sampai juga aku di rumah.”

Rasa berat hati dan tak ikhlas masih menyelimutiku dengan begitu hangat.
Tak terasa matahari sudah di atas kepala,begitu panas rasanya siang ini.
Aku menuju ke tempat tidur hanya untuk merebahkan diri dan beristirahat sejenak.

“Maaaasssss!!”

Tiba-tiba aku terbangun. Dan ternyata siang ini aku terbangun dari mimpi.

Bayang-bayang buruk begitu terlihat jelas ketika wajah kangmas berlumuran dengan darah. Bayangan kepala sebelah kiri kangmas terlihat sayatan luka yang tak beraturan. Merinding rasanya di kala itu aku duduk di dekatnya di dalam mobil ambulance Puskesmas. Nafas kangmas yang begitu terengah-engah. Jika Allah mengijinkan, aku sanggup untuk menggantikan posisi kang mas saat itu.

Aku harus menunggu di luar ruang Instalasi Gawat Darurat di Puskesmas ketika kang mas dibawa ke dalam ruang IGD. Isak tangis yang begitu dalam saat itu membuatku hingga sulit untuk bernafas. Didalam hati dan fikiran aku tak henti berharap dan berdoa kepada Allah agar kangmas tetap selamat.
Tak lama seorang suster perawat keluar dari ruang IGD

“keluarga saudara bapak Erwin.”

“iya sus,bagaimana keadaan suami saya? Dia ndak napa-napa kan sus? Dia baik-baik saja kan sus?”

“ibu yang sabar ya. Kami sudah berusaha dengan semampu kami, namun Allah sudah berkehendak lain. Kami tidak mampu menyelamatkan bapak Erwin lagi. Kami mohon maaf bu. Yang sabar ya buu”

“innalillahiwainnailaihirijiuun..”

Suara tangis yang jelas keluar dari mulutku hinggaku terbujur lemah tak berdaya hingga ku pingsan tak sadarkan diri.
Segera aku bangkit dan berlari untuk melihat wajah kangmas tanpa nyawa saat iu.
Segera aku dan almarhum kangmas menuju kerumah. Saat dirumah orang-orang desa sudah siap dengan segala uborampenya untuk menyambut duka.
Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Biar orang-orang desa yang mengurus semua ini. Hanya untuk bediri saja aku sudah tidak mampu. Suara-suara nasihat dari orang-orang desa tak terpengaruh bagiku untuk menerima semua ini.

Hingga pagi datang, aku masih terduduk diam di atas kasur dengan memeluk baju batik kesayangan kangmas. Ingin aku marah kepada Allah atas semua ini,namun itu semua percuma,Allah sudah merindukan Kangmas. Kangmas sudah tidak akan kembali lagi. Bagaimanapun juga aku harus tetap tabah menjalani itu semua.

Hingga sampai saatnya untuk kangmas menuju tempat peristirahatan yang terakhir.
Tenanglah kangmas di sana, aku akan selalu mendoakan kamu.
Aku akan segera menyusulmu, kangmas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar