Jumat, 28 Desember 2012

SAMPIT

Sebenarnya, jauh sebelum kasus Sampit mencuat, sekitar 118 kilometer ke arah Palangkaraya, tepatnya di Desa Kerengpangi, Kecamatan Katingan Hilir terjadi pembantaian tokoh pemuda Dayak setempat. Namanya, Sendung. Tepatnya, di lokalisasi WTS Kerengpangi. Pada dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB (16 Desember 2000). Sendung datang ke lokasi perjudian. Saat itu ,ada tiga warga Madura Mat Sura, Kacung dan Mat Suki sedang main judi dadu gurak. Sebenarnya, antara Sendung dan ketiga warga Madura itu sudah saling kenal.
Sendung dikenal sebagai tokoh pemuda Dayak yang disegani. Sedangkan tiga Madura tadi dikenal sebagai penguasa lokalisasi. Tiba-tiba, tangan Sendung menyenggol badan Mat Sura. Entah dipengaruhi minuman atau balas dendam, Mat Sura tidak terima. Cekcok lantas tak bias dihindari. Emil, pemuda Dayak, saat itu berusaha melerai. Tapi, tak dihiraukan. Mereka tetap saja cek cok. Kacung, salah satu teman Mat Sura pulang ke rumah sekitar 75 meter dari lokasi semula untuk mengambil celurit. Begitu sampai, tanpa ba bi bu lagi, Kacung membacokan ke tubuh Sendung. Sendung yang juga dikenal jagoan berusaha melawan. Tapi, karena dikoroyok, Sendung pun tersungkur dengan tiga luka bacok. Dada, leher dan perut. Sedangkan warga sekitarnya takut melerai. Versi keluarga Sendung berbeda. Kepada Jawa Pos, diceritakan bahwa saat itu, Sendung dijemput beberapa orang ke lokalisasi. Kabarnya, ada judi. Sendung yang selama ini getol melarang perjudian dadu gurak di wilayahnya datang. Tapi, Dewi, istri Sendung sudah membaca sepertinya ada rekayasa penciptaan suasana agar ada bentrokan. “Makanya, begitu warga Madura tersenggol langsung cek cok,” jelas salah satu keluarga Sendung. Esoknya, warga Dayak geger. Mereka pun ramai-ramai mencari tiga warga Madura yang membunuh Sendung. Tapi, ketiganya sudah lolos. Untuk melampiaskan kekesalnya, warga dayak membakari rumah karaoke, tempat perjudian, warung makan dan rumah.   Saat itu, ada sekitar 16 rumah ludes dilalap api. Lokalisasi itu sebetulnya milik Akong. Namun, pengelolaannya sehari-hari dipercayakan kepada tiga warga Madura tesebut. Kini, Akong melarikan diri setelah terjadi insiden itu.  Warga makin dongkol karena polisi sepertinya membiarkan pelakunya lolos. Bahkan, mereka mendengar kabar kalau sudahkabur ke Pulau Madura. Kedongkolan warga Dayak makin memuncak karena itu bukan kasus yang pertama. Setiap kali, ada warga Madura membunuh warga Dayak selalu lolos dan lari ke Madura. Kalau pun masuk bui tidak lama. Kawan atau keluarganya bias menebus. “Makanya, kekesalan warga Dayak sudah memuncak,” kata tokoh Dayak Sabran Akhmad kepada Jawa Pos. Kerengpanggi sebenarnya hanya dusun kecil di tepi jalan raya Tjilik Riwut, Palangkaraya Sampit. Tepatnya, di kilometer 99 jalan Cilik Riwut. Tapi, setelah ditemukan tambang emas sekitar tahun 1980-an, dusun yang sepi mulai menggeliat.  Warga luar berdatangan mendulang emas.n Tidak terkecuali warga Madura. Apalagi, sekitar tahun 1996 Sjamsul Nursalim lewat PT Ampahit Perdana membuka pendulangan emas secara besar-besran. Dusun yang semula tenang menjadi ramai dengan hadirnya pasar, toko, karaoke, mini market, bar, yang dilengkapi lokalisasi WTS. Seiring bertambahnya warga yang mendulung emas, angka kriminalitas makin meningkat.  Tiada hari tanpa perkelahian. Umumnya melibatkan warga Dayak dan Madura. Bahkan, Perengpangi biasa disebut Texas-nya Kalteng. Pencurian, perkelahian, perampokan, perebutan tanah adalah hal bisa di Krengpangi. Terhadap kenyataan itu, aparat keamanan seakan tak berdaya. Jarang warga Madura yang ditangkap akibat tindak kriminalnya. “Kekesalan itu menjadi terakumulasi hingga menimbulkan dendam kesumat bagi warga Dayak,” tandas Sabran. Prof H.K.M.A Usop, mantan Rektor Universitas Palangkaraya yang kini sebagai Ketua Presedium Lembaga Musyawarah Dayak Daerah Kalimantan Tengah (KPLMDDKT), mengakui kalau banyak pelanggaran, tindakan kriminal yang merugikan harta dan nyawa orang Dayak. Sebetulnya, setiap kali terjadi bentrok selalu diakhiri perdamaian. Tapi, setiap kali pula warga Madura melanggarnya. Begitu seterusnya. “Paling tidak sudah ada 15 kali perdamaian. Tapi, hasilnya sama selalu dilanggar warga Madura,” kata Usop saat pertemuan tokoh masyarakat Dayak dengan DPRD Kalteng.  Bahkan, saat pembuatan jalan Palangkaraya-Kasongan terjadi bentrok Dayak-Madura, tepatnya di Bukit Batu tahun 1983.
Setelah bentrokan reda, dibuatlah perdamaian antara tokoh Dayak dengan tokoh Madura.   Ada satu poin penting dalam perjanjian itu. Yakni, Warga Madura dengan sukarela akan meninggalkan Kalimantan Tengah jika melakukan pertumpahan darah terhadap warga dayak. Tapi, berkali-kali ada pertumpahan darah warga Madura jangankan pergi tapi makin banyak berdatangan ke Kalimantan. “Dokumen itu yanh kini sedang kami cari,” tambha Usop. Tragedi pertumpahan darah di Kalimantan terjadi tahun 1967, pasca G 30 S/PKI. Tragedi itu tak lepas dari ekor G 30 SPKI. Saat itu pemerintahan Soeharto menuduh Cina di Kalimantan Barat adalah komunis. Untuk mengenyahkan Cina komunis, Soeharto menggunakan salah satu etnis Dayak untuk membunuh Cina yang komunis dan pendukung Pasukan Gerilyawan Serawak (PGRS). Korban pun berjatuhan sebanyak 300 orang. Selebihnya, ratusan ribu Cina diungsikan. Setelah itu, bentrokan Dayak tidak dengan Cina, tapi dengan Madura. Dayak menuding perilaku warga Madura tak terpuji. Suka kekerasan, dan sering melakukan tindakan kriminal yang banyak merugikan warga Dayak. Bentrokan kecil dan besar antara dayak dan Madura di Kalimantan Tengah sejak 1983 sudah terhitung 15 kali. Tapi, selalu berakhir perdamaian. Sebelum kasus Kerengpangi dan Sampit, bentrokan besar terjadi tahun 1996 dan 1997 di Sangauleudo di Kalbar maupun Sambas. Dimana dua warga dayak ditusuk sampai tewas oarang Madura. Kerusuhan pun pecah, sedikitnya 1000 korban tewas. Dan sebanyak 2000 warga Madura diungsikan. (bh)

‘Kuluk,… Kuluk,… Kuluk…’,Esoknya Semua Tanpa Kepala

BOHONG, kalau Gubernur Kalteng Asnawi Agani mengatakan orang Madura yang tewas 200 orang, meskipun itu informasi yang datang dari Posko Sampit. Hal ini dikatakan sejumlah orang Madura yang ikut naik KRI Teluk Ende 517. Dalam pelayaran menyusuri Sungai Mentaya (70 km), ABK dan pengungsi bisa Melihat puluhan mayat yang mengapung di sepanjang sungai, dan sejumlah Bangunan rumah warga Madura dan Pasar Sampit/Pasar Ganal yang tinggal temboknya yang hangus. Dikatakan seorang pengungsi yang bekerja di penggergajian kayu, PT Sempagan Raya Sampit, Abdul Sari (30), bahwa yang tampak di sungai saja ada puluhan yang mengapung dan tersangkut di pinggir. Sementara yang hanyut dan tenggelam lebih dari 200 warga etnis Madura. “Ini baru yang di sungai, belum yang terserak di pinggir sepanjang Jl. Masjid Nur Agung saja tidak kurang dari 200 mayat,” katanya. Sementara di Jl. Sampit Pangkalan Bun, saat ini masih banyak mayat yang bergelimpangan di tepi jalan. Mayat-mayat itu hanya ditutupi dengan batu koral yang dibungkus karung sak. Tidak ada yang menolong untuk dimakamkan, kami tidak mungkin untuk melakukan itu. Sedang untuk bisa lolos dari kejaran dan tebasan mandau Dayak saja sudah bersyukur. Abdul Sari juga mengatakan, sekarang pasukan Dayak tidak lagi membedakan siapa yang akan dibunuh. Awalnya yang diserang hanya etnis Madura, tapi kini semua pendatang, termasuk orang Jawa, dan Cina. Mereka bukan hanya ditebas lehernya saja, tapi juga dipenggal jadi beberapa potong. Di mata etnis Madura, polisi setempat sudah kehilangan kepercayaannya lagi. Mereka (warga etnis Madura) mengaku, siangnya di sweeping dan senjatanya disita petugas, dan mereka (petugas) mengatakan, semua sudah aman dan tidak ada apa-apa lagi. Maka warga etnis Madura di Jl. Sampit Pangkalan Bun tenang-tenang saja dan percaya pada petugas. Ternyata malamnya diawali dengan suara kuluk,… kuluk,… kuluk,… sebentar kemudian pasukan Dayak muncul dan membunuhi warga Madura.
Tidak ada yang tersisa, mereka yang menyerah maupun yang lari dibunuh. Umumnya mereka diserang pada malam hari, ratusan Dayak dengan suara kuluk…, kuluk…, sambung-menyambung muncul dari segala penjuru. Esoknya warga etnis Madura mati mengenaskan dengan badan tanpa kepala lagi. Parebuk Menurut warga etnis Madura yang ikut KRI Teluk Ende, Sopian (56), warga yang banyak mati dari daerah Parebuk, Semuda. Karena warga Madura yang ada di sini tidak menghindar tapi melakukan perlawanan sengit. “Saat ini di sana yang tersisa tinggal wanita dan anak-anak,” kata Sopian. Sopian yang datang ke pengungsian dengan jalan menyusuri sungai mengatakan, dia berjalan sambil sembunyi-sembunyi di antara pohon hutan yang cukup lebat. Ternyata setelah 7 hari di pengungsian ia hanya melihat beberapa warga Madura dari Semuda. Berarti ada sedikitnya 500 orang Madura yang tewas melawan Dayak di Semuda. “Kalau masih hidup seharusnya perjalanan mereka tidak lebih dari satu atau dua hari saja,” kata Sopian. Sopian bersama pengungsi lain yang ada di pengungsian pun mengaku masih dibayang-bayangi pasukan suku Dayak. Bahkan ada isu bahwa kamp pengungsian di halaman Pemda Sampit akan diserbu oleh Dayak. Hal ini membuat warga Madura yang ada di pengungsian menjadi resah, di samping mereka sudah ketakutan, juga mereka sudah tidak memiliki senjata lagi. Menurut Kilan, sejumlah orang Dayak membawa mayat orang Madura dengan geledekan keliling kota. Tidak sampai di situ, geledekan yang berisi orang Madura ditinggal begitu saja di depan Polres Sampit, Jl. Sudirman.Kekesalan warga Madura terhadap oknum polisi di Polsek Jl. Ba Amang Tengah semakin menjadi, seperti yang diungkapkan oleh Somad yang mendatangi kantor Polsek. Ia minta perlindungan setelah dikejar-kejar oleh sekitar 50 Dayak, Somad minta diantar ke tempat pengungsian. Kapolsek bukannya menolong tapi justru memanggil Dayak yang ada di sekitar situ. Somad mengaku lari ke belakang, dengan melompat lewat pintu belakang Polsek ia akhirnya lolos lari ke semak-semak. Ia sempat merangkak sejauh 300 m sebelum lepas dari kejaran Dayak dan lari ke hutan. Dari hutan ini ia menyusuri tepian hutan dan akhirnya sampai ke tempat pengungsian. Ia pun bersyukur karena bisa ketemu dengan anak istrinya. Seorang pengungsi, Choiri (40), dari Pasuruan mengatakan, ada peristiwa yang sangat mengenaskan dari daerah Belanti Tanjung Katung, Sampit. Sebanyak 4 truk pengungsi Parengkuan yang dibawa oleh orang yang mengaku petugas dengan mengatakan akan dibawa ke tempat penampungan pengungsi di SMP 2, akhirnya dibantai habis. Ternyata mereka yang mengaku petugas adalah pasukan Dayak, orang Madura disuruh turun dan dibantai. “Jika tiap truk berisi 50 pengungsi berarti ada 200 pengungsi yang tewas dibantai,” kata Choiri. Choiri mengatakan, yang dibantai itu semuanya wanita dan anak anak.
Begitu jemputan yang kedua tiba, yang diangkut adalah orang laki-laki dewasa, justru mereka selamat tidak di tempat pengungsian karena dikawal oleh Brimob dari Jakarta. Liar Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal di Jl. Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini ikut pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya, mengapa orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang. Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang Madura. Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan atau mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia disuruh minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya diolesi dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud anjing dan akhirnya harus diburu dan dibunuh. Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini menurut Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah panglima perang suku Dayak. (R Dewanto Nusantoro)

Rabu, 05 September 2012

Kang Mas


Pagi itu aku beranjak dari tempat tidur. Segera aku berkemas-kemas untuk pergi ke sungai Dam di ujung desa tempat aku tinggal. Tikar pandan dan kain batik bermotif Rejeng ku bawa dengan kutumpuk pada satu ember hitam untuk ku bawa ke sungai. Rasanya begitu berat kaki ini untuk ku langkahkan.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah dan langkah demi langkah kaki ku akan segera sampai ke sungai Dam. Perlahan obrolan para ibu-ibu desa yang berada di sungai itu mulai terdengar. Hingga langkah berikutnya mata ku mulai melihat aliran air sungai Dam. Dan kini telah sampailah aku pada bibir sungai Dam. Satu persatu kain dan tikar ku keluarkan dari ember hitam yang ku bawa dari rumah tadi itu. Ku basahi kain dan tikar pandan itu dengan air sungai. Tikar yang seharusnya berbau pandan ini sudah tidak berbau wangi pandan lagi, melainkan bau amis, anyir, bau darah yang begitu menyengat. Dan gumpalan-gumpalan darah yang menempel pada kain dan tikar perlahan mencair dan mengikuti kemana air sungai dan darah akan mengalir.

“Mbak, mbok ya jangan melamun gitu! Mau saya bantu biar ndak kelelahan?”

“Oh ndak usah bu Sri, saya masih sanggup sendiri kog. Terimakasih ya sudah mau menawarkan bantuan.”

Suara Bu Sri begitu jelas terdengar di telingaku.

Mataku mulai melirikke arah kiri atas. Sedikit terlihat batu nisan yang masih baru. Mataku mulai berkaca-kacahingga aku tak menyadari bahwa kain yang sedang aku cuci itu hampir terbawa arus tenang sungai.
Aku masih tak percaya dengan itu semua. Seakan akan apa yang tengah aku alami ini hanyalah mimpi semata.

“Kangmas, apa kamu tidak mau untuk membuka mata lagi untukku? Darahmu yang telah ,membeku dan mengalir di sungai ini semakin membuatku merasa ndak ikhlas.”

“Mbaak,sudahlah jangan kau terus ingat-ingat dan jangan kau terlalu larut dalam kesedihan ini. Ikhlaskan saja dia mbak”

“Saya itu selalu berusaha seperti itu bu,tapi bagaimana lagi. Jujur saya belum bisa mengikhlaskan kangmas untuk pergi begitu saja”

“ya sudah lah mbak, lebih baik kamu lanjutkan dulu nyucimu itu.setelah itu kamu pulang dan beristirahatlah ya. Ingat jangan terlalu capek.”

“iya,terimakasih ya buu.”

Aku tak ingin terlalu lama di sungai ini, karena semakin siang sungai ini semakin sepi.

“sampai juga aku di rumah.”

Rasa berat hati dan tak ikhlas masih menyelimutiku dengan begitu hangat.
Tak terasa matahari sudah di atas kepala,begitu panas rasanya siang ini.
Aku menuju ke tempat tidur hanya untuk merebahkan diri dan beristirahat sejenak.

“Maaaasssss!!”

Tiba-tiba aku terbangun. Dan ternyata siang ini aku terbangun dari mimpi.

Bayang-bayang buruk begitu terlihat jelas ketika wajah kangmas berlumuran dengan darah. Bayangan kepala sebelah kiri kangmas terlihat sayatan luka yang tak beraturan. Merinding rasanya di kala itu aku duduk di dekatnya di dalam mobil ambulance Puskesmas. Nafas kangmas yang begitu terengah-engah. Jika Allah mengijinkan, aku sanggup untuk menggantikan posisi kang mas saat itu.

Aku harus menunggu di luar ruang Instalasi Gawat Darurat di Puskesmas ketika kang mas dibawa ke dalam ruang IGD. Isak tangis yang begitu dalam saat itu membuatku hingga sulit untuk bernafas. Didalam hati dan fikiran aku tak henti berharap dan berdoa kepada Allah agar kangmas tetap selamat.
Tak lama seorang suster perawat keluar dari ruang IGD

“keluarga saudara bapak Erwin.”

“iya sus,bagaimana keadaan suami saya? Dia ndak napa-napa kan sus? Dia baik-baik saja kan sus?”

“ibu yang sabar ya. Kami sudah berusaha dengan semampu kami, namun Allah sudah berkehendak lain. Kami tidak mampu menyelamatkan bapak Erwin lagi. Kami mohon maaf bu. Yang sabar ya buu”

“innalillahiwainnailaihirijiuun..”

Suara tangis yang jelas keluar dari mulutku hinggaku terbujur lemah tak berdaya hingga ku pingsan tak sadarkan diri.
Segera aku bangkit dan berlari untuk melihat wajah kangmas tanpa nyawa saat iu.
Segera aku dan almarhum kangmas menuju kerumah. Saat dirumah orang-orang desa sudah siap dengan segala uborampenya untuk menyambut duka.
Aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Biar orang-orang desa yang mengurus semua ini. Hanya untuk bediri saja aku sudah tidak mampu. Suara-suara nasihat dari orang-orang desa tak terpengaruh bagiku untuk menerima semua ini.

Hingga pagi datang, aku masih terduduk diam di atas kasur dengan memeluk baju batik kesayangan kangmas. Ingin aku marah kepada Allah atas semua ini,namun itu semua percuma,Allah sudah merindukan Kangmas. Kangmas sudah tidak akan kembali lagi. Bagaimanapun juga aku harus tetap tabah menjalani itu semua.

Hingga sampai saatnya untuk kangmas menuju tempat peristirahatan yang terakhir.
Tenanglah kangmas di sana, aku akan selalu mendoakan kamu.
Aku akan segera menyusulmu, kangmas.

Selasa, 10 Juli 2012

SYUKURKU PADA-MU


Adalah hal yang tak seharusnya aku ungkapan. tetapi hal itulah yang membuatku menjadi sedikit untuk menutupi apa yang tengah terjadi padaku. aku hanyalah manusia biasa yang tak menginginkan hal kemunafikan sekecil apapun. aku manusia sama seperti kalian yang menginginkan lebih. aku menyukai ketika pada diri ku ada suatu masalah, namun sungguh aku bukan orang yang suka buat masalah hanya karena ingin menjadi pusat perhatian semata.
sampai detik ini aku masih belum bisa memberikan manfaat bagi orang-orang di sekelilingku.
namun ketika aku mencoba memberi yang terbaik,ada satu hal yang membuatku begitu kecewa pada kalian semua. peristiwa itu terjdi sekitar beberapa bulan lalu,tepatnya bulan Desember 2011 dimana aku terjatuh pingsan tak sadarkan diri. begitu piciknya orang itu yang tak tau etika dan sopan santun.
belum sempat ku jatuhkan tuduhan,orang itu begitu cepat merespon,sehingga seolah olah aku lah yang telah memfitnahnya.dengan tampang "muka dua"nya itu beberapa orang begitu mudah tertipu olehnya.
namun tak kunjung henti ku ucap syukur kepada Allah karena aku masih diberi perlindungan olehNYA.
sosok seorang senior bagiku adalah ia yang mampu untuk memberi contoh terpuji bagi juniornya. namun apalah daya, tak semua orang bisa seperti itu hanya karena suatu hal tertentu.
tapi dari itu semua aku tau bagaimana karakter tian insan manusia.
terimakasih ya Allah,....



Jumat, 01 Juni 2012

Jangan Salahkan Jilbab Ku


Malam yang begitu indah dengan bintang dan bulan yang yang coba tuk tunjukkan sinarnya. Tak terasa akupun menitihkan air mata hingga pandanganku menjadi buram karenanya. Aku selalu berharap bahwa penantianku ini tak akan sia-sia.
“Ya Allah, dengan berhembusnya angin malam ini aku berharap angin malam ini dapat sampaikan rinduku padanya. Aku selalu berharap dan memohon hanya padaMU ya Allah…”
Sungguh tak terasa kini sudah mulai larut malam. Aku masih saja duduk di tengah taman belakang rumahku berharap suatu keajaiban datang padaku.
“Iezza….. iezza…. Sudah malam, cepat masuk rumah dan tidur. Ibu tak mau kamu sakit lagi.” Suara panggilan ibu kepadaku, yang seakan- akan mengkhawatirkan aku. Tanpa pikir panjang aku masuk rumah kemudian kumatikan lampu kamar tidurku, ku pejamkan mata dan aku mulai tidur.
“Kak Riko, kak Riko… kakak mau kemana? Tunggu aku kak, apa kakak sudah lupa dengan aku? Apa kakak sudah tak mengenalku lagi hingga kakak harus nerlari dan pergi meninggalkan aku seperti ini? Kak Riko, tunggu aku kak…!!!”
Aku terjatuh dari tempat tidurku. Ternyata itu hanya mimpi. Dalam fikirku aku sangat takut bila hal itu benar-benar terjadi padaku. Tepat pukul tiga pagi aku sudah tak mampu memejamkan mata hingga pagi datang.
Waktunya pagi ni untuk aku mandi dan bersiap berangkat sekolah. Aku adalah seorang siswi berjilbab kelas dua tingkat menengah keatas. Aku sekolah di salah satu SMA jawa tengah. Sepertinya ada hal baru di sekolahku ini. Apa yang aku rasakan ini benar, ada beberapa PPL salah satu universitas di jawa tengah yang cukup terkenal. Beberapa diantara mereka, terutama yang lelaki, ada satu orang yang aku suka, tapi aku hanya sekedar mengaguminya saja, hanya ngefans dan tak lebih. Andi namanya.
Awal mula aku bisa mengobrol bareng sama dia yaitu malam minggu sehari sebelum ada acara ekstrakulikuler di sekolah. Andi yang memulai pembicaraan itu. Aku, Mela dan Rani mendengarkan cerita-cerita tentang sedikit kisah cintanya. Dari cerita Andi itu, aku bisa merasakan kekesalan yang ia rasakan. Dan tak lama kemudian Mira datang mendekati kami dan ikut mendengarkan cerita Andi. Selesai dengan cerita Andi, aku memulai bincangan gurauan dengan mereka dan mereka pun ikut merespon canda dariku.
Beberapa hari kemudian, hubungan aku dengan Andi lumayan baik. Namun tak lama kemudian ada seorang sahabat aku yang datang, dan aku pun sempat berfikir bahwa kedatangan dia itu hanya mengganggu atau bahkan akan merusak suassana saja. seketika itu aku langsung beristighfar dalam hatiku. Karena aku sadar aku hanya khilaf, aku sudah berfikir salah pada temanku sendiri.
Pagi hari pun datang. Seperti hari-hari biasa aku sekolah, duduk di kelas, memperhatikan guru di depan hingga bel berbunyi saatnya untuk jam istirahat pertama. Aku keluar kelas dan tak ku sangka aku bertemu dengan Andi. Aku lontarkan senyuman padanya dan dia pun kembali membalas senyumanku. Kembali ku tersenyum bahagia karenanya.beberapa menit kemudian terdengar suara bel berbunyi lagi pertanda jam istirahat pertama sudah habis. Kebahagiaan yang aku dapat itu aku rasakan hingga beberapa hari dan hingga akhirnya aku melihat Mira bersama dengan Andi tengah mengobrol, entah apa yang sedag bicarakaan. Entah kenapa saat aku melihat mereka hatiku serasa panas, serasa ada yang tengah membisikkan sesuatu hal yang buruk di telingaku tentang mereka. Aku berusaha tuk tetap tenang dan tak tunjukkan kekesalanku pada mereka.
Satu, dua, tiga, dan hari- hari seterusnya aku selalu melihat Andi dan Mira selalu bersama. Apa yang aku rasakan ini ssungguh berbeda dari yang lain. Yang biasanya Andi selalu dekat dan dikerumuni oleh siswi-siswi lain aku hanya bersikap santai, tak seperti Mira saat aku melihat dia bersama dengan Andi.
“Mir, kamu juga tau aku mengagumi Andi, tolonglah kamu tak usah terlalu mendekat dengan dia. Sewajarnya saja seperti teman-teman yang lain.” Ku kurim pesan singkat itu ke Mira. Mira  hanya membalas bahwa ia hanya sedekar bercanda dengannya dan sedikit menanyakan tentang tugas-tugas sekolahnya. Aku berfikir bahwa apa semua tugas sekolah ia ada sangkut pautnya dengan Andi sih sampai-sampai setiap hari aku harus melihat mereka bersama. Aku mulai berfikir yang aneh-aneh tentang mereka. Apa mereka ada hubungan khusus?
Aku terlalu kesal dengan Andi kali ini. Kini sikap dia terhadapku semakin menjauh tak seperti awal ku kenal dia. Jangankan untuk mendekat dan membalsa senyumku, melihatku saja dia sepertinya sudah muak, begitu juga sikap Mira terhadapku. Aku melai bingung dengan sikap mereka terhadapku. Apa salahku pada mereka? Mungkin ini hanya salah faham, dimana aku sebagai korbannya.
Malam ini perasaanku mulai tak tenang kembali, entah apa yang akan terjadi nanti. Aku begitu takut dengan perasaanku ini, hal yang selalu ku ucap dengan perasaan ku saat ini “semoga ini hanya perasaanku saja dan semoga hal buruk tak kan terjadi”
Hari sabtu yang biasanya aku berangkat sekolah,kini libur. Saatnya bagiku tuk tenangkan diri dan fikiranku.
“apa maksud kamu buat status di facebook? Jadi orang nggak usah norak gitu deh!”
Baru saja ku akan memulai hariku dengan senyuman tiba-tiba aku terima pesan singkat dari Andi. Entah apa maksud dia seperti itu.
“apaan sih, pagi-pagi krim SMS gitu,apa maksudnya?”
“dah lupa kamu buat status apa? Mulutmu itu harus dijaga,jangan asal buat status seperti itu! Aku udah buka semua profil kamu di fb!”
“astaghfirullah hal adziim, tolong jangan seperti itu,coba lihat dulu status itu buat siapa,jangan asal su’udzon seperti itu. Bener status itu aku yang buat,tapi lillahi ta’ala itu bukan untukmu. Terserah kamu mau bilang apaa tentang aku,tapi yang jelas aku nggak pernah buat status seperti itu untukmu!”
“haallaahh,… udah lah nggak usah munafik seperti itu. Harusnya kamu malu sama jilbab kamu. Jilbab kamu dipakai hanya tuk nutupin semua kalakuan buruk kamu itu kan? Aku udah tau semuanya tentang kamu. Wajahmu itu nggak cantik-cantik amat nggak usah belagu gitu,sadar diri lah. Malu sama jilbab kamu itu.” Saat ku baca balasan pesan singkat itu dari Andi, hati ku langsung terasa begitu sakit,baru kali ini ada orang yang mengatakan tentang sesuatu hal yang tak pernah ku lakukan dan yang sama sekali tak ada dalam diriku kini dituduhkan pada diriku. Ku coba tuk menahan air mata.
“astaghfirullahaladzim, apa-apaan sih ini? Tolonglah jangan seperti itu, jangan asal nuduh,dan jangan sekali kali kamu salahkan jilbabku seperti itu! Kamu ggak ada hak hina aku seperti itu! Kamu siapa dan aku siapa?!” aku sungguh tak terima dengan semua ini dan sontan ku marah dengan Andi! “aku tau dan aku juga sadar dengan apa yang ada didiri aku sekarang ini. Tapi tak selayaknyaa juga anda menghina diri saya seperti ini, segeralah istighfar dan sadar dengan apa yang telah anda tuduhklan pada saya! Ingatlah, Allah itu lebih tau segalanya tentang apa-apa saja yang tak kau tau!”
“halah udah lah jangan bawa-bawa nama Allah seperti itu! Kalau toh memang benar itu bukan untukku, berani kamu bersumpah atas agamamu?” dia seolah menantang dan tak percaya dengan penjelasanku. Kali ini aku merasa sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang tak tau apa-apa dan susah untuk diberi nasehat.
“maaf sebelumnya,bukan ku bermaksud tuk menggurui anda,tapi saya hanya sekedar mengingatkan, jangan asal bersumpah atas nama agama! Tapi kalau memang hanya itu yang bisa membuat anda percaya baiklah, saya setujui. Tapi ingat saja, harusnya anda malu dengan apa yang telah anda tuduhkan kepada saya yang tak terbukti dan tanpa fakta yang sebenarnya. Ingat saja, Allah itu Maha Adil, sekecil apapun kita melakukan suatu hal, maka Allah akan memberi ganjaran yang seimbang entah itu baik dan buruknya seseorang dimatamu.” Setelah ku balas pesan singkat itu, Andi tak membalasnya kembali. Aku berfikir mungkin dia malu dengan semua ini,menuduh tanpa sebab. Ternyata fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan,tapi tak berarti juga pembunuhan itu tak kejam.
Dari apa yang aku dapat oleh tuduhan Andi itu, aku mulai menyadari tentang nasehat dari kawan-kawanku. Fisik boleh saja tampan dan menawan, tapi lihatlah dulu bagaimana kepribadian,perlakuan,sifat dan watak seseorang itu. Fisik tampan tak menjamin keimanannya. Aku mulai befikir ulang, kalau Andi berfikir buruk tentangku dan menyalahkan jilbab yang ku kenakan ini, lalu bagaiman dengan mereka-mereka yang tak mengenakan jilbab seperti aku? Apakah mereka juga lebih baik dari aku? Aku memakai jilbab bukan karena ingin disanjung dan dikagumi, melainkan karena Allah melakukan segala tindakanku mulai dari aku bangun tidur hingga aku mulai tidur kembali.
Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar bahwa Mira dan Andi kini sudah menjalin hubungan yang special. Ternyata apa yang aku fikirkan terwujud. Beberapa dari temanku pun mencoba tuk tenangkaanku,tapi aku menggap berita itu hanya angin lalu saja, karena aku sudah tak mengaguminya lagi karena suatu hal dimana aku akan menyimpan baik-baik dalam memori ingatanku saja. Dan tak lama kemudian aku mendengar kabar bahwa hubungan persahabatan Mira dengan Mela mulai retak. Begitu juga dengan Andi, tiap kaali aku melihat dia saat jam istirahat,dari wajahnya terlihat seperti sedang memikirkan suatu masalah dihidupnya,dan juga isu-isu buruk tentang hubungan mereka. Aku menggap itu semua adalah balasan dari Allah, hanya dengan diam dan tak berbuat apapun mereka mendapat balasannya bahkan dari orang-orang terdekat mereka terutama Andi. Semoga mereka sadar dengan apa yang telah mereka lakukan dan tuduhkan terhadapku.




heningnya jiwa berirama rindu yang terpaut oleh hembusan angin malam

Kamis, 03 Mei 2012

Don kala: Resensi Buku-Book Review Laila Majnun

Don kala: Resensi Buku-Book Review Laila Majnun

SATU LILIN


SATU LILIN


Aku bukan seorang sastrawan
yang mampu menuliskan kata kata kias penuh makna
Aku bukan seorang pelukis
yang mampu memberi warna dalam kanvas kehidupanmu
Aku bukan seorang jurnalis 
yang mampu menulis dan sampaikan kata dengan bijak
Aku bukan bintang dan bulan
yang mampu menyinari tiap malam datang
Aku bukan seorang yang romantis
yang mampu memberi kenangan indah pada pasangan
Tapii,...
di saat malam gelap tanpa satu titik cahaya pun
satu lilin akan mampu terangi gelap malam itu
akan meleleh untuk tetap bisa menerangi kegelapan
Dan ketika cahaya lain datang,...
dan saat itu lah lilin akan terpejam
Dan itu lah Aku,...
Cinta yang telah lama tumbuh
kau buang sia sia,...

Senin, 13 Februari 2012

REMEMBER

Remember me when I am gone away,
gone far away into the silent land,
when you can no more hold me to by hand,
Nor I Half turning stay.
remember me when no more day by day
you tell me of our future that you plann'd
only remember me,you understand
it will be late to counsel then or pray
yet if you should for get me for a while
and afterwards remember, do not grive
for if the darkness and corruption leave
a vestige of the thoughts that once I had,
better by far you should forget and smile
than that you should remember and be sad

Jumat, 10 Februari 2012

Semua Hanya Mimpi

cinta yang tulus telah ternodai dengan kebohongan
ini semua t ak lebih dari keajhatan hati
kini bunga etlah layu sebelum berkembang
kau yang etlah abaikan hatiku
mendungnya sayang ku saat melihat semua ini
air yang tak kan selamanya padamkan hati
bagai percikan api yang membakar sakitku
Diam,diam dan diam,...
hati kecil ku pun menangis rasakan pedih
Rasamu yang telah mati karenanya
andai ku tak punya hati,
tak kan pernah ku merintih sesal
Ingin ku teriakan kesakitan ini
"SEMUA HANYA MMIPI"
kata bintang yg tak terangi mlamku
angin yang tak kan sampai kan rinduku
langkah kaki yang tak menghampirimu
Kan q tunggu saat trbaik q
saat semua yang ku ingin berpihak padaku

Rabu, 08 Februari 2012

Arti Seorang Wanita Untuk Laki-Laki

Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki : perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, mengurusi hal-hal yang kadang dianggap sepele. Hingga ketika kau tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya. Sehingga tanpa kau sadari ketika menjalankan sisa hidupmu… kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu. Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan.
Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki, tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi, tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi. Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya, kata-kata yang lembut, ungkapan-ungkapan sayang yang sepele, namun baginya sangat berarti, membuatnya aman di dekatmu.Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan perempuan, itu sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya. Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki, apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana. Karena mereka, ia menjadi seperti sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga, karena kau dan dia adalah satu, dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu.

Selasa, 07 Februari 2012

30 Tips Hidup Bahagia


1.    Berpikir dan Bersyukur
2.    Yang Lalu Biarlah Berlalu 
3.    Harimu...Hari Ini
4.    Biarkan Masa Depan Hingga Ia Datang 
5.    Biarkan dan Acuhkan Kritik Menyakitkan yang Memberondong Anda 
6.    Jangan Tunggu Ucapan Terima Kasih dari Seseorang 
7.    Berbuat Baik kepada Orang Lain 
8.    Mengisi Waktu Senggang dengan Kerja 
9.    Jangan Jadi Bunglon 
10. Tanamkan Keimanan pada Qadha' dan Qadar 
11.  Yakinlah, Bersama Kesulitan Ada Kemudahan 
12.  Buatlah Minuman Manis dari Lemon 
13.  Berdoa 
14.  Biarlah Rumahmu Menaungimu 
15.  Cari Pengganti dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala 
16.  Mengisi Kehidupan dengan Iman 
17. Ambillah Madu, Tapi Jangan Rusak Sarangnya 
18. Mengingat Allah
19.  Menghindari Dengki 
20. Menerima Kehidupan Sebagaimana Adanya 
21.  Menghibur Orang yang Tertimpa Musibah 
22. Shalat...Shalat 
23.  Menjadikan Allah sebagai Penolong dan Pelindung Terbaik 
24. Berkelana di Muka Bumi 
25. Bersabar dengan Baik
26. Jangan Bawa Bola Dunia di Atas Kepalamu 
27. Jangan Cemas karena Perkara Sepele 
28. Menerima Bagian dari Allah dengan Ridha 
29. Ingatkan Dirimu akan Surga yang Luasnya Seluas Langit dan Bumi 
30. Menjadi Manusia yang Adil

Kamis, 02 Februari 2012

Tresna Sejati








Ora nyana ora ngira


telung tahun sliramu ninggalake aq ng kne dw

tnpa ucap tanpa layang

dumadi awu kang mawur merga angin

laku q ing ngendi bae,sansaya sepi tnp sliramu

laku urip q dumadi urip tnp tujuan

gur rsa sepi nyenyet ing ati,sing dirasa


Ora dak lilakne sliramu plih wadon lya

bkal dak anti'' tumurun kabeglan ing ati

Tresna q iki tqesna sejati

ati q iqi ati kang mangerti

Kang mas, . . .

Dak ti''p no ati q ing atimu. .

Tresnaku marang sliramu qie

angluwihi tresna q mrang sliraku dwe..

Rabu, 01 Februari 2012

Kita boleh-boleh saja berharap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan demi diri kita sendiri,
namun, jangan terlalu mudah lidah dan bibir kita untuk berucap janji dan sumpah bila sekiranya kita belum tentu dapat menepati itu semua.

Tulisan ini hanya lah sebuah ungkapan hati, yang dimana tak semua yang terungkap itu dapat kau mengerti,
hanya keinginan untuk di mengerti dan ingin mengerti,
tahu dan ingin tahu
peduli dan memperdulikan

:)