Selasa, 27 Desember 2011

PELARIANKU



Dalam tidur ku yang lelap, sering kali bunda ku melihatku dalam kamar tidurku,hanya memastikan apakah aku sudah benar-benar tidur atau belum dan bahkan sering kali ia mencium keningku. Tidurku menjadi lebih nyeyak karena kasih sayang yang ia berikan padaku. Saat pagi menjelang dan aku mulai bersiap untuk berangkat sekolah, tak lupa bundaku selalu membawakan aku bekal makanan untuk ku ke sekolah. Tiap ku hendak kesekolah, ayah lah yang selalu mengantarkan ku hingga sampai di sekolah. Kebersamaan dalam keluarga ini sungguh benar- benar dapat aku rasakan. Aku begitu beruntung dengan ini. Karena ternyata hidup ku  lebih baik dari pada mereka  mereka yang tak seberuntung aku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku jika aku sampai seperti mereka.
Menjadi seseorang yang berharga dan penting bagi orang lain adalah sesuatu yang membanggakan bagiku. Karena dengan ini aku dapat mengambil manfaat hidup, bahwa aku ini tak dapat hidup sendiri di dunia yang begitu luas, aku membutuhkan teman, keluarga, dan orang-orang terkasih. Hingga tak lama kemudian masalah datang mendera di keluarga ayah dan bundaku. Sering kali ku menangis sendiri di dalam kamar dengan sikap mereka yang tak pernah damai. Entah apa yang menyebabkan mereka seperti itu.
Tak seperti malam-malam biasanya ketika aku tidur. Tidur malam ku ini serasa tanpa arti  mimpi yang ku harapkan sehingga ku terbangun di tengah malam hingga pagi datang. Ayahku yang selalu mangantarkan ku ke sekolah, ayah ku yang selalu memberikan kata  kata bijak dan motivasi bagi ku tuk jalani kehidupan ku, hari ini tak ku rasakan hal tersebut.
Sudahlah nak, jangan terlalu larut dalam kesedihan seperti ini, ayah hanya pergi untuk bekerja, tak akan lama. Ayah pergi hanya untuk menyelesaikan semua pekerjaan ayah yang tertunda.
Selalu kata-kata itu yang ku dengar dari mulut bunda ketika ku tanyakan tentang keberadaan ayahku saat ini. Sejak ayah tak ada di rumah lagi aku sering melihat bundaku menitihkan air mata, dan ketika ku tanyakan,...
 Mata bunda hanya terkena debu saja, hanya mata lelah nak.
Hanya jawaban itu-itu saja yang ku dapat tak jauh berbeda dengan jawaban bunda ketika ku tanyakan tentang keberadaan ayah. Aku merindukan sosok figure seorang ayah.
Hingga akhirnya malam berikutnya aku memutuskan tuk tidak pulang kerumah. Sesuatu yang bagi orang lain adalah sampah dan barang yang meyesatkan kini sudah ada di genggamanku. Aku sungguh kesal dengan semua ini. Pertengkaran ku dengan kawan  karib ku, bunda ku yang telah acuh terhadapku, bunda ku yang selalu marah-marah terhadapku tanpa sebab yang jelas kini semuanya telah memuncak dalam fikiranku. Aku tak sanggup memendam semua ini sendirian. Bukan ku sok tegar, bukan ku sok tak membutuhkan siapa-siapa dalam hidupku. Aku hanya berusaha untuk menyelesaikan semua hal yang ada dalam hidupku, karena ku tak ingin menjadi beban fikiran tuk mereka.
Aku sadar diri. Sejak tiadanya ayah di hidup ku yang tak tau kini dimana rimbanya aku hanyalah anak biasa yang tak punya apa-apa. Segala harta benda yang pernah bundaku miliki kini telah tiada, hanya untuk menyambung hidupnya dan aku. Gubug kecil di bawah jembatan ini lah yang menjadi surgaku ketika panas teriknya matahari dan ketika hujan membasahi bumi pijakan ku ini.
Hingga diusiaku yang menginjak remaja ini, barulah aku menyadari apalah arti perpisahan yang sesungguhnya. Mungkin hal ini lah yang bunda maksudkan sejak aku kecil dulu. Andai waktu itu bisa ku putar kembali, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi pada diriku!
Ku tinggalkan sekolahku, segala kemewahan yang dulu pernah ku miliki kini hanya sebagai kenangan saja. kini aku tak dapat rasakan lagi apalah rasa kasih sayang dari kedua orang tuaku, kawan-kawanku. Sejenak aku berusaha tuk lupakan semua yang telah terjadi dengan aku terus berjalan entah kemana dan beberapa hari tak pulang ke gubuk ku itu dan sampai ku kembali bundaku telah pergi jauh meninggalkan aku dan tak akan kembali lagi untuk selama-lamanya. Sungguh, bukan ini yang aku harapkan dalam hidupku. Dan bahkan aku berfikir, bahwa Tuhan tak adil terhadapku. Namun dengan ini terkadang aku berfikir, bahwa hidup ini hanya sementara, tak ada yang abadi. Semua hal yang kita miliki ini hanyalah sementara dan akan kembali lagi ke Tuhan. Dan semenjak kepergian bunda, aku tak akan kembali lagi ke gubuk itu. Aku akan pergi jauh,jauh, dan sejauh jauhnya.
Dalam perjalananku, aku tak tau kemana akan ku hentikan langkah kaki ini. Dan terkadang dalam perjalanan, seringku berteriak sesuka hati ku, sering ku menyakiti diriku sendiri hanya untuk melupakan kesakitan-kesakitan yang pernah terjadi. Dan bahkan serpihan kaca sudi ku goreskan ke tanganku. Derasnya hujan membuat goresan luka ini semakin perih di tubuhku.
Hujan yang tak ada hentinya dan di malam yang gelap ini, aku terus melangkahkan kaki ku untuk meninggalkan masa lalu. Dan ketika ku melihat sebuah keluarga yang ku anggap begitu serasi dan keluarga yang begitu harmonis mengingatkan ku tentang kenangan bersama ayah dan bundaku dulu. Segera aku berlari sekuat tenaga di bawah derasnya hujan  hingga aku tak tau dimana sekarang aku berdada.
Terkadang, saat perutku serasa lapar, dengan beraninya aku bertindak criminal hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Jika aku merasa begitu galau,aku akan terus berlari sekencang mungkin untuk menjauh dari kehidupan hingga entah sampai kapan dan dimana kaki ini akan berhenti.