Selasa, 29 November 2011

Jangan Salahkan JilbabKu

Add caption


Malam yang begitu indah dengan bintang dan bulan yang yang coba tuk tunjukkan sinarnya. Tak terasa akupun menitihkan air mata hingga pandanganku menjadi buram karenanya. Aku selalu berharap bahwa penantianku ini tak akan sia-sia.
“Ya Allah, dengan berhembusnya angin malam ini aku berharap angin malam ini dapat sampaikan rinduku padanya. Aku selalu berharap dan memohon hanya padaMU ya Allah…”
Sungguh tak terasa kini sudah mulai larut malam. Aku masih saja duduk di tengah taman belakang rumahku berharap suatu keajaiban datang padaku.
“Iezza….. iezza…. Sudah malam, cepat masuk rumah dan tidur. Ibu tak mau kamu sakit lagi.” Suara panggilan ibu kepadaku, yang seakan- akan mengkhawatirkan aku. Tanpa pikir panjang aku masuk rumah kemudian kumatikan lampu kamar tidurku, ku pejamkan mata dan aku mulai tidur.
“Kak Riko, kak Riko… kakak mau kemana? Tunggu aku kak, apa kakak sudah lupa dengan aku? Apa kakak sudah tak mengenalku lagi hingga kakak harus nerlari dan pergi meninggalkan aku seperti ini? Kak Riko, tunggu aku kak…!!!”
Aku terjatuh dari tempat tidurku. Ternyata itu hanya mimpi. Dalam fikirku aku sangat takut bila hal itu benar-benar terjadi padaku. Tepat pukul tiga pagi aku sudah tak mampu memejamkan mata hingga pagi datang.
Waktunya pagi ni untuk aku mandi dan bersiap berangkat sekolah. Aku adalah seorang siswi berjilbab kelas dua tingkat menengah keatas. Aku sekolah di salah satu SMA jawa tengah. Sepertinya ada hal baru di sekolahku ini. Apa yang aku rasakan ini benar, ada beberapa PPL salah satu universitas di jawa tengah yang cukup terkenal. Beberapa diantara mereka, terutama yang lelaki, ada satu orang yang aku suka, tapi aku hanya sekedar mengaguminya saja, hanya ngefans dan tak lebih. Andi namanya.
Awal mula aku bisa mengobrol bareng sama dia yaitu malam minggu sehari sebelum ada acara ekstrakulikuler di sekolah. Andi yang memulai pembicaraan itu. Aku, Mela dan Rani mendengarkan cerita-cerita tentang sedikit kisah cintanya. Dari cerita Andi itu, aku bisa merasakan kekesalan yang ia rasakan. Dan tak lama kemudian Mira datang mendekati kami dan ikut mendengarkan cerita Andi. Selesai dengan cerita Andi, aku memulai bincangan gurauan dengan mereka dan mereka pun ikut merespon canda dariku.
Beberapa hari kemudian, hubungan aku dengan Andi lumayan baik. Namun tak lama kemudian ada seorang sahabat aku yang datang, dan aku pun sempat berfikir bahwa kedatangan dia itu hanya mengganggu atau bahkan akan merusak suassana saja. seketika itu aku langsung beristighfar dalam hatiku. Karena aku sadar aku hanya khilaf, aku sudah berfikir salah pada temanku sendiri.
Pagi hari pun datang. Seperti hari-hari biasa aku sekolah, duduk di kelas, memperhatikan guru di depan hingga bel berbunyi saatnya untuk jam istirahat pertama. Aku keluar kelas dan tak ku sangka aku bertemu dengan Andi. Aku lontarkan senyuman padanya dan dia pun kembali membalas senyumanku. Kembali ku tersenyum bahagia karenanya.beberapa menit kemudian terdengar suara bel berbunyi lagi pertanda jam istirahat pertama sudah habis. Kebahagiaan yang aku dapat itu aku rasakan hingga beberapa hari dan hingga akhirnya aku melihat Mira bersama dengan Andi tengah mengobrol, entah apa yang sedag bicarakaan. Entah kenapa saat aku melihat mereka hatiku serasa panas, serasa ada yang tengah membisikkan sesuatu hal yang buruk di telingaku tentang mereka. Aku berusaha tuk tetap tenang dan tak tunjukkan kekesalanku pada mereka.
Satu, dua, tiga, dan hari- hari seterusnya aku selalu melihat Andi dan Mira selalu bersama. Apa yang aku rasakan ini ssungguh berbeda dari yang lain. Yang biasanya Andi selalu dekat dan dikerumuni oleh siswi-siswi lain aku hanya bersikap santai, tak seperti Mira saat aku melihat dia bersama dengan Andi.
“Mir, kamu juga tau aku mengagumi Andi, tolonglah kamu tak usah terlalu mendekat dengan dia. Sewajarnya saja seperti teman-teman yang lain.” Ku kurim pesan singkat itu ke Mira. Mira  hanya membalas bahwa ia hanya sedekar bercanda dengannya dan sedikit menanyakan tentang tugas-tugas sekolahnya. Aku berfikir bahwa apa semua tugas sekolah ia ada sangkut pautnya dengan Andi sih sampai-sampai setiap hari aku harus melihat mereka bersama. Aku mulai berfikir yang aneh-aneh tentang mereka. Apa mereka ada hubungan khusus?
Aku terlalu kesal dengan Andi kali ini. Kini sikap dia terhadapku semakin menjauh tak seperti awal ku kenal dia. Jangankan untuk mendekat dan membalsa senyumku, melihatku saja dia sepertinya sudah muak, begitu juga sikap Mira terhadapku. Aku melai bingung dengan sikap mereka terhadapku. Apa salahku pada mereka? Mungkin ini hanya salah faham, dimana aku sebagai korbannya.
Malam ini perasaanku mulai tak tenang kembali, entah apa yang akan terjadi nanti. Aku begitu takut dengan perasaanku ini, hal yang selalu ku ucap dengan perasaan ku saat ini “semoga ini hanya perasaanku saja dan semoga hal buruk tak kan terjadi”
Hari sabtu yang biasanya aku berangkat sekolah,kini libur. Saatnya bagiku tuk tenangkan diri dan fikiranku.
“apa maksud kamu buat status di facebook? Jadi orang nggak usah norak gitu deh!”
Baru saja ku akan memulai hariku dengan senyuman tiba-tiba aku terima pesan singkat dari Andi. Entah apa maksud dia seperti itu.
“apaan sih, pagi-pagi krim SMS gitu,apa maksudnya?”
“dah lupa kamu buat status apa? Mulutmu itu harus dijaga,jangan asal buat status seperti itu! Aku udah buka semua profil kamu di fb!”
“astaghfirullah hal adziim, tolong jangan seperti itu,coba lihat dulu status itu buat siapa,jangan asal su’udzon seperti itu. Bener status itu aku yang buat,tapi lillahi ta’ala itu bukan untukmu. Terserah kamu mau bilang apaa tentang aku,tapi yang jelas aku nggak pernah buat status seperti itu untukmu!”
“haallaahh,… udah lah nggak usah munafik seperti itu. Harusnya kamu malu sama jilbab kamu. Jilbab kamu dipakai hanya tuk nutupin semua kalakuan buruk kamu itu kan? Aku udah tau semuanya tentang kamu. Wajahmu itu nggak cantik-cantik amat nggak usah belagu gitu,sadar diri lah. Malu sama jilbab kamu itu.” Saat ku baca balasan pesan singkat itu dari Andi, hati ku langsung terasa begitu sakit,baru kali ini ada orang yang mengatakan tentang sesuatu hal yang tak pernah ku lakukan dan yang sama sekali tak ada dalam diriku kini dituduhkan pada diriku. Ku coba tuk menahan air mata.
“astaghfirullahaladzim, apa-apaan sih ini? Tolonglah jangan seperti itu, jangan asal nuduh,dan jangan sekali kali kamu salahkan jilbabku seperti itu! Kamu ggak ada hak hina aku seperti itu! Kamu siapa dan aku siapa?!” aku sungguh tak terima dengan semua ini dan sontan ku marah dengan Andi! “aku tau dan aku juga sadar dengan apa yang ada didiri aku sekarang ini. Tapi tak selayaknyaa juga anda menghina diri saya seperti ini, segeralah istighfar dan sadar dengan apa yang telah anda tuduhklan pada saya! Ingatlah, Allah itu lebih tau segalanya tentang apa-apa saja yang tak kau tau!”
“halah udah lah jangan bawa-bawa nama Allah seperti itu! Kalau toh memang benar itu bukan untukku, berani kamu bersumpah atas agamamu?” dia seolah menantang dan tak percaya dengan penjelasanku. Kali ini aku merasa sedang berbicara dengan seorang anak kecil yang tak tau apa-apa dan susah untuk diberi nasehat.
“maaf sebelumnya,bukan ku bermaksud tuk menggurui anda,tapi saya hanya sekedar mengingatkan, jangan asal bersumpah atas nama agama! Tapi kalau memang hanya itu yang bisa membuat anda percaya baiklah, saya setujui. Tapi ingat saja, harusnya anda malu dengan apa yang telah anda tuduhkan kepada saya yang tak terbukti dan tanpa fakta yang sebenarnya. Ingat saja, Allah itu Maha Adil, sekecil apapun kita melakukan suatu hal, maka Allah akan memberi ganjaran yang seimbang entah itu baik dan buruknya seseorang dimatamu.” Setelah ku balas pesan singkat itu, Andi tak membalasnya kembali. Aku berfikir mungkin dia malu dengan semua ini,menuduh tanpa sebab. Ternyata fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan,tapi tak berarti juga pembunuhan itu tak kejam.
Dari apa yang aku dapat oleh tuduhan Andi itu, aku mulai menyadari tentang nasehat dari kawan-kawanku. Fisik boleh saja tampan dan menawan, tapi lihatlah dulu bagaimana kepribadian,perlakuan,sifat dan watak seseorang itu. Fisik tampan tak menjamin keimanannya. Aku mulai befikir ulang, kalau Andi berfikir buruk tentangku dan menyalahkan jilbab yang ku kenakan ini, lalu bagaiman dengan mereka-mereka yang tak mengenakan jilbab seperti aku? Apakah mereka juga lebih baik dari aku? Aku memakai jilbab bukan karena ingin disanjung dan dikagumi, melainkan karena Allah melakukan segala tindakanku mulai dari aku bangun tidur hingga aku mulai tidur kembali.
Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar bahwa Mira dan Andi kini sudah menjalin hubungan yang special. Ternyata apa yang aku fikirkan terwujud. Beberapa dari temanku pun mencoba tuk tenangkaanku,tapi aku menggap berita itu hanya angin lalu saja, karena aku sudah tak mengaguminya lagi karena suatu hal dimana aku akan menyimpan baik-baik dalam memori ingatanku saja. Dan tak lama kemudian aku mendengar kabar bahwa hubungan persahabatan Mira dengan Mela mulai retak. Begitu juga dengan Andi, tiap kaali aku melihat dia saat jam istirahat,dari wajahnya terlihat seperti sedang memikirkan suatu masalah dihidupnya,dan juga isu-isu buruk tentang hubungan mereka. Aku menggap itu semua adalah balasan dari Allah, hanya dengan diam dan tak berbuat apapun mereka mendapat balasannya bahkan dari orang-orang terdekat mereka terutama Andi. Semoga mereka sadar dengan apa yang telah mereka lakukan dan tuduhkan terhadapku.