Senin, 26 September 2011

MAHKOTA KESETIAAN


Hmpir dua tahun sudah berlalu, hubungan pacaran Erwin dan Gustin dan satu tahun pulalah Erwin perhi meninggalkan Gustin sendiri tanpa ada kabar darinya. Begitu setianya Gustin dengan cinta mereka, entah apa yang membuatnya seperti itu
“Hei, ngelamun aja sih Gus, jangan kebanyakan ngelamun gitu deh, tar kesambet baru tahu rasa kamu. Mikirin apaan lagi sih? Mikirin Erwin lagi ya?” Gustin mengangguk.
“I ya nieh Helda, aku khawatir banget sama dia takut terjadi apa-apa sama dia. Maklum lah Hel,udah satu tahun lebih aku nggak ketemu dia.”
“Ya udah lah Gus, kan kamu yang bilang sendiri kalau Erwin pergi juga nggak akan lama, toh dia pergi juga kerja,cari dui twat nglamar kamu,hehe”
“Hm.. apaan sih kamu,bisa aja. Nasib aku kok bisa kayak gini ya? Apa ini ujian buat cinta aku ke dia ya? Ya Allah”
“Aku bisa ngertiin gimana perasaan kamu saat ini. Yang penting kamu doain dia aja lah, semoga dia baik-baik aja disana terus nggak macem –macem pula. Ya udah,jangan terlalu difikirin terus ya”
Mereka yang baru usia-usia remaja SMA, Helda memang sahabat yang baik untuk Gustin.
Sesampainya dirumah Gustin bertemu dengan satu lelaki, Widi namanya. Kesan pertama yang Gustin lihat Widi cukup baik. Mereka pun kenalan, tukeran alamat facebook dan nomor telepon. Dari hari ke hari hubungna mereka mulai akrab saja, ada saja candaan dari mereka.
Hari minggu pun datang. Gustin libur sekolah dan Widi libur kerja. Mereka pun janjian jalan bareng. Sampailah mereka ditempat wisata terdekat. Ngobrol,ngobrol, becanda bareng,seru. Eh nggak taunya tiba-tiba Widi bilang cinta ke Gustin,sontak gustin terkejut, suatu tantangan untuknya. Mampukah ia setia dengan cinta Erwin.
“dek,cinta itu bisa datang dengan siapa saja dan kapan aja. Mas Cuma berharap aja kamu bisa ngertiin perasaan mas ke kamu. Semua mantan-mantan mas tuh nggak ada yang bisa ngertiin keadaan mas, ya mungkin Cuma kamu aja yang bisa ngertiin mas. Kan mas juga pernah tanya sama kamu,apa kamu udah punya pacar apa belum,kalau toh emang udah ya mending mas mundur ja. Mas juga laki-laki bisa menghargai perasaan orang, dan mas juga nggak mau jadi orang ketiga dalam hubungan kamu. Dek,kamu itu penyemangat buat mas, mas pingin kamu tau itu.”
“iya,untuk saat ini kan mas? Mas, aku Cuma wanita biasa yang nggak puya apa-apa. Coba deh mas lihat, secara fisik aku jauh dari mereka. Kan masih banyak juga mas wanita yang jauh lebih baik segalanya dari aku.”
“dek,ya nggak gitu juga lah,mas beneran sayang ma kamu, mas cinta sama kamu,kamu penyemangat mas dan mungkin Cuma kamu yang bisa ngertiin keadaan mas sekarang.”
Gustin hanya dian  saja mendengar kata-kata dari Widi. Bingung, entah kata apa yang akan ia berikan untuknya. Lalu dialihkannya pembicaraan itu.
Waktu pun sudah semakin sore,saatnya pulang. Sesampainya dirumah,Helda melihat Gustin baru pulang.
“dari mana Gus,tumben. Siapa tadi?”
“oh hay, dari jalan bentar ma temen kenalan baru,hehe”
Tak terasa hari pun sudah malam. Gustin teringat dengan kata-kata dari Widi. Satu tahun lebih dia pertahankan kesetiian itu,tapi apa harus kandas dengan kehadiran orang ketiga. Dilema cinta. Setiap orang juga butuh kasih sayang dan cinta lebih dari orang lain.
Satu bulan berlalu,namun Widi belum mendapatkan jawaban.
“ya udah dek, mas kasih waktu buat berfikir dan untuk kasih satu jawaban buat mas. Mas tau kamu butuh waktu untuk sendiri dulu. Mas nggak kan hubungin kamu dulu sampai kamu mau kasih jawaban buat mas.”
Pacaran? Sebenarnya Gustin belum boleh pacaran, tapi yang namanya anak usia remaja juga pasti ingin merasakan bagaimana pacaran itu. Tapi dengan kehadiran Widi di kehidupan Gustin ini dia sedikit bisa berbagi, tapi ia teringat kembali dengan jaji cinta Erwin. Erwin akan pulang dengan cintanya untuk Gustin. Sulit bagi Gustin ketika dihadapkan pada dua pilihan, mana yang harus dia pilih.
Malam itu Gustin memutuskan untuk menerima Wdi. Kabar gembira untuk Widi. Gustin bukan tipe orang yang romantic, ia terima cinta widi dengan kata-kata yang cukup puitis. Widi adalah orang kedua dalam hidup Gustin yang mendengar kata-kata indah dari mulut Gustin. Bingung, resah, gelisah dan perasaan senang yang ada dibenaknya. Dan sejenak ia lupakan Erwin. Dengan Widi ia mencoba untuk belajar sedikit melupakan cintanya dan memulai hal yang baru.
Hari demi hari hubungan GUstin dengan Widi semakin baik saja, hanya ada masalah kecil yang mengganggu hubungan mereka. Beberapa hari lagi adalah hari yang sangat special untuk Gustin karena hari itu adalah hari ulang tahunnya. Berharap Erwin lah yang kasih ucapan selamat ulang tahun untuknya, tapi itu sungguh tak mungkin.  Ternyata orang pertama itu bukan Erwin, tetapi Widi. Dihari special ini lah Widi ajak Gusti jalan-jalan , rasa bahagia kini menyelimuti hati Gustin. Namun ia menjadi banyak melamun, memikirkan seseorang. Namun perlahan lamunan itu terpecah dengan candaan yang terlontar dari mulut Widi.
Tak sengaja Gustin melihat dan membuka telepon genggamnya Widi, dan ternyata isi telepon genggamnya itu ada foto mesranya Widi dengan perempuan lain. Bukan hanya itu saja, Widi juga menyimpan foto-foto wanita lain yang bukan hanya mantannya saja.
Dari mulut manisnya Widi, Gustin termakan dengan rayuan gombalnya Widi. Namun dari apa yang Gustin lihat itu membuatnya semakin jaga jarak dengan Widi. Sejenak dari kejadian itu Gustin kembali berfikir, kalau tahu jadinya seperti ini lebih baik dulu dia tidak menerimanya dan tetap setia dengan cinta Erwin. Tapi rasa sakit hati yang dirasakannya dapat terkalahkan dengan suara Erwin. Begitu bahagianya dia ketika ia dapat mengobrol kembali dengan kekasih sejatinya itu. Dan tak lupa Erwin pun turut mengucapkan sekamat ulang tahun dan mendiakan ia agar ia tetap baik-baik saja.
Tak lama kemudian karena adanya orang ketiga di hubungan Gustin dengan Widi akhirnya hubungan merekapun kandas juga. Gustin berfikir bahwa keputusan yang dia ambil inilah pilihan yang terbaik untuknya. Dia telah cukup bahagia dengan semua ini. Tak ada sedikit rasa dendam dan benci untuk Widi juga orang ketiga itu, karena ia yakin masih ada Allah Yng Maha Tahu dan Maha Adil. Tak lama kemudia Widi mendapatkan karmanya yang memang sepantasnya dia dapatkan itu.
Kabar bahagia dan dukungan yang didapat Gustin dari Erwin, membuatnya semakin bersemangat untuk terus giat belajar demi menggapai cita-citanya. Dari apa yang dia almi selama ini dia menjaditahu apa artinya cinta sejati dan kesetiaan. Ia pun kembali kekehidupan sebelumnyayang tetap setia menanti Erwin kembali pulang tuk membuktikan cintanya. Dan mungkin cepat atau lambat Erwin akan mengetahui hal yang telah terjadi dengan Gustin.